Tampilkan postingan dengan label Kritis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kritis. Tampilkan semua postingan
Minggu, 12 Juni 2011
Jumat, 06 Mei 2011
DINAMIKA KREATIVITAS. sebuah asumsi mengenai proses kreativitas
Dinamika Kreativitas
Sebuah Asumsi mengenai proses kreativitas dalam penemuan hal-hal baru.
Oleh : Dhany Rupawan
Saya sepakat dengan pandangan yang mengatakan bahwa kreativitas adalah pelanggaran yang baik. Seorang seniman yang melakukan sebuah proses kreativitas, dituntut untuk menemukan hal-hal yang baru berdasarkan teori-teori yang telah ada atau belum ada teori sama sekali yang mendukung gagasannya.
Dalam hal ini tentunya ada proses komunikasi dialektika gagasan dari seniman dan penikmat seni yang melibatkan kode (Code) dan pesan (message). Menurut Umberto Eco dalam buku Semiotika Komunikas karangan alex sobur, menyatakan bahwa meskipun kode mengontrol penyampaian pesan, aka tetapi pesan itu sendiri dapat merestruktur kode yang member peluang bagi kreativitas bahasa. Orang dapat merestruktur ekspresi maupun isi pesan mengikuti kemungkinan-kemungkinan dan kapasitas pengkombinasiannya yang dinamis.
Proses komunikasi dapat menciptakan semacam diskursus baru. Yaitu ketika ekspresi atau isi komunikasi betul-betul baru dan belum terumuskan oleh kode yang telah ada sebelumnya , sehingga menuntut untuk lahirnya sebuah kode baru.
Sebuah situasi diskursus dapat kita lihat dalam sebuah proses kreativitas seorang seniman yang menuntut adanya perubahan aturan. Sorang pelukis misalnya, dalam proses komunikasi gagasannya diharuskan menemukan sebuah fungsi-tanda yang baru. Akan tetapi, oleh karena setiap penggunaan fungsi-tanda diatur oleh sebuah kode, maka pelukis tesebut harus mengusulkan sebuah kode baru. Untuk mengusulkan sebuah kode tentunya mengusulkan sebuah ‘korelasi’ atau keterhubungan. Dan setiap korelasi tersebut berdasarkan pada sebuah ‘Konvensi’ atau kesepakatan. Akan tetapi oleh karena konvensi terhadap gagasan tersebut belum ada, maka pelukis tersebut harus melandasi korelasi gagasannya berdasarkan konvensi baru.
Proses dinamika bahasa ini sebagaimana yang diuraikan diatas hanya dimungkinkan ketika system bahasa dan proses penggunaan tanda secara social merupakan sebuah ‘spiral’ yang satu sama lain saling mendinamisasi sehingga menciptakan sebuah system bahasa yang selalu siaga terhadap berbagai situasi atau lingkungan baru, yang menuntut adanya perubahan. namun perlu diingat juga bahwa proses dinamika bahasa tersebut bukanlah hal yang semena-mana, oleh karena produk akhir dari setiap perubahan system adalah konvensi baru yang merupakan produk social dari bahasa.
Semiotika Cinta, Sebuah Asumsi
Semiotika Cinta
Sebuah asumsi…Dhany Rupawan
Tak bisa menafikan hal ini dari kehidupan kita. Karena pada dasarnya manusia sangat membutuhkan keindahan (Estetika ) dan cinta adalah salah satu manifestasi terbesarnya yang terwujud dalam tanda-tanda kehidupan. Bagi saya, Cinta secara umum adalah bahasa kalbu sifatnya sangat abstrak dan tak berbatas. cinta menjadi sebab atas segala sesuatu tindakan kebaikan. Karena raga manusia sangat terbatas, maka cinta yang tinggi yang bersumber dari sesuatu yang tinggi dan agung, yang kemudian oleh manusia, berusaha di materiil kan dengan melakukan pendekatan2 pada symbol-simbol keindahan. Menurut Van zoest dalam buku karangan alex sobur “ Semiotika Komunikasi”, mengutarakan Manusia adalah Homo semioticus yang selalu berupaya merebut sebuah tanda deri kekuasaan yang lebih tinggi Dan jika kekuasaan itu berdiam diri, tidak memberikan tanda, maka manusia sendiri yang akan memproklamasikan sesuatu, apa saja sebagai tanda .
Kita shalat karena cinta pada Allah. Cinta adalah sebab yang alamiah dan Shalat adalah Akibat yang merupakan pendekatan semiotik untuk mencapai sang Cinta itu. Gerak tubuh dan doa adalah sarana untuk berkomunkasi dan bertemu dengannya sang pemilik cinta abadi.
Begitupun saat kita merasa jatuh cinta pada seorang wanita. Telah ada idea/konsepsi cinta terhadap lawan jenis yang kita sebut perempuan idaman yang terbangun dalam kalbu kita. Ketika kita melihat seorang wanita, kalbu kita secara alamiah merespon tanda-tanda yang terpancar dari perempuan itu. Kalbu dan logika kita, seketika berkoneksi dengan melakukan penyesuaian tanda antara idea/konsepsi kita disesuaikan dengan tanda yang terpancar dari perempuan itu. Kalau ada kecocokan atau sedikit mendekati, maka seketika jatuh cinta pada pandangan pertama pun terjadi….
Selalu ada proses yang dinamis dari proses komunikasi semiotic tersebut yang tak menutup kemungkinan asumsi jatuh cinta pandangan pertama kita bisa berubah setelah menganalisa lebih jauh tanda-tanda yang muncul.
Langganan:
Postingan (Atom)

